TENUN IKAT TROSO JEPARA

by - Tuesday, December 12, 2017

www.kopidankamu.com


Selain terkenal dengan pusat kerajinan meubel dan ukiran, ternyata Jepara juga mempunyai produk kerajinan unggulan berupa Kain Tenun Ikat. Lebih dikenal dengan nama Kain Troso karena pada awal mulanya diproduksi di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara.

Jadi ceritanya, setelah check out dari Seaside Villa kita sengaja mampir di sentra kerajinan Kain Troso ini, karena selain dilewati jalan pulang ke arah Semarang, kenapa tidak sekalian aja cari sesuatu yang bisa jadi oleh-oleh. Secara nggak mungkin kan kalau bawa-bawa meubel. Jadilah kita singgah di salah satu rumah produksi kain tenun yang direkomendasikan, yaitu 'Dewi Shinta' beralamat di Jalan Bugel Km. 2 Troso RT 01 RW 05 Pecangaan Jepara.

Di tempat ini, tidak hanya menjual kain atau yang sudah dalam bentuk baju siap pakai saja, melainkan termasuk proses produksi kain tenun ikat dari awal sampai jadi kain tenun siap pakai bisa kita lihat. Seru kan? Yuk kita intip seperti apa proses produksi hingga menjadi kain-kain tenun yang cantik.

Lokasi produksinya terletak di ruang bawah tanah, jadi ada beberapa lantai yang posisinya di bawah showroomnya.

Baca juga Seaside Villa and Muse Beach Resto Jepara

www.kopidankamu.com
Proses 'malet' dan 'nyepul'
Di lantai B1 ini ada empat ibu-ibu yang lagi nggulung benang pakai roda sepeda gitu. Waktu ditanya, mereka ada yang jawab malet dan nyepul. Trus mana yang malet mana yang nyepul? Ternyata kain tenun troso terbuat dari 2 macam benang, yakni benang lungsi serta benang pakan. Benang lungsi nantinya akan digunakan sebagai benang yang posisinya membujur, sedangkan benang pakan akan digunakan dengan posisi melintang. Benang pakan, dilakukan proses pemasangan ke dalam plangkan melalui proses yang disebut ngeteng. Setelah tertata dalam plangkan, selanjutnya dilakukan proses pewarnaan. Namun sebelum diwarna, plangkan dipasang motif dan diikat tali plastik pada bagian motif-motif yang dikehendaki. Bagian-bagian yang ditali nantinya akan terlindung dari bahan pewarna saat pencelupan. Usai diwarna, benang dijemur, dilepas ikatannya dan dilakukan pemintalan lewat proses yag disebut malet. Selanjutnya benang siap dipakai untuk menenun bersama benang lungsi yang sudah diproses juga. Proses penyiapan benang lungsi diwarna dulu, kemudian disepul. Yakni dipintal ke dalam alat sepulan. Selanjutnya dilakukan proses nyekir dimana benang dipindah ke alat BUM sehingga benang nantinya bisa dipasang di alat tenun.

Lanjut turun satu lantai lagi, sebut saja B2. Di ruang ini terlihat beberapa kegiatan yang dilakukan oleh bapak-bapak yang bertelanjang dada alias 'ngligo' kalau dalam bahasa jawa. Mungkin karena faktor ruangan yang terletak di bawah dan terlalu panas.

www.kopidankamu.com
Penampakan ruangan produksi yang berada di bawah
Gambar di atas, yang di pojok kiri itu disebut 'ngeteng' artinya memindahkan benang dari kelos atau bal yang langsung diatur sedemikian rupa ke plangkan atau bingkai yang berukuran 1,5m x 1m menjadi bentuk untaian.

www.kopidankamu.com
Yang di pojok kiri adalah gulungan kelos sebelum masuk proses pewarnaan

www.kopidankamu.com
Proses 'nali'
Setelah membuat gambar motif pada plangkan, maka proses selanjutnya adalah 'nali' yaitu menutup bagian tertentu pada plangkan dengan cara mengikat pada tali rafia supaya pada saat pewarnaan bagian yang terikat tersebut tidak terkena warna

www.kopidankamu.com
Setelah proses pewarnaan
Proses pewarnaan sendiri terdiri dari beberapa tahapan, seperti:

  • Nyelup, yaitu memasukkan benang pakan untuk kain tipisan dan lungsi untuk kain blangket (kain tebal) kedalam cairan pewarna. Proses ini dapat dilakukan berulang kali tergantung jenis warna yang dikehendaki. Benang pakan adalah benang yang terdapat memanjang ke arah lebar kain, sedangkan benang lungsi adalah benang yang memanjang ke arah panjang kain.
  • Nyolet atau nyatri, yaitu memberi warna tambahan pada benang sebagai variasi warna, tahap ini dilakukan pada proses benang pakan pada kain tipis.
  • Nyolet gesekan, yaitu lidi dicelupkan ke zat pewarna kemudian digesekan pada rangkaian benang pada plangkan yang masih terikat.
  • Nyolet naptol, yaitu kuas dicelup naptol lalu disapukan pada rangkaian benang pada plangkan kemudian kuas dicelup pada zat warna dan disapukan kembali pada tempatnya.
  • Batil, yaitu melepaskan sebagian ikatan tali rafia pada benang yang selesai dijemur, kemudian dicelup lagi.
  • Bongkar, yaitu mengurai benang setelah dibatil agar benang mudah untuk dipisahkan per helai. Istilah bingkat digunakan pada proses benang pakan untuk kain tipisan.

www.kopidankamu.com
Ini adalah proses 'nyekir'
Selanjutnya adalah nyekir, yaitu proses benang lusi untuk kain tipisan maupun blangket dengan memasukkan tiap lembar benang ke dalam alat gun, alat yang terbuat dari besi semacam sisir yang terpisah-pisah mata sisirnya, fungsinya untuk mengatur atau menampung letak benang yang akan ditenun.

www.kopidankamu.com
Proses 'ngebom'
Pada proses ini, caranya adalah memindahkan benang ke dalam bom, serta mengatur susunan motif agar saling berhadapan. Bom adalah alat yang dipakai untuk menggulung benang tenun dan untuk menggulung hasil tenun.

www.kopidankamu.com
'ngebom'

www.kopidankamu.com
Proses 'nyucuk'
Proses nyucuk adalah memasukan benang pada gun dan sisir. Pada tahap ini bertujuan untuk mempersiapkan benang lusi pada ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).

www.kopidankamu.com
Proses 'menenun' pada kain blangket
www.kopidankamu.com
Proses 'menenun' pada kain tipisan
Proses menenun adalah proses yang paling akhir. Secara teknis untuk ATBM adalah sama baik pada kain blangket maupun kain tipisan, perbedaannya terletak pada operasional dari benang pakan.

www.kopidankamu.com


www.kopidankamu.com


www.kopidankamu.com


www.kopidankamu.com
Kain Tenun Blangket ukuran 2 m x 3 m dengan harga Rp 250.000,-
Sumber: tenuntroso.com






You May Also Like

5 comments

  1. Dulu pas kecil, aku kirain tenun kain ini dari daerah Nusa Tenggara Timur. Sampai Mama bilang, ini dari Jepara. Agak kaget juga waktu itu. Jepara?

    Kain tenun Troso ku di rumah, buat selimut. Warnanya biru, kayak yang waktu itu kamu pakai ke KL. Tapi entah tuh kemana sekarang. Ilang pas pindah deh kayaknya sama kain jarik pernikahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... lha justru selimut biru punyaku dr Bali say... mirip2 gt y motif tenunnya...

      Delete
  2. Wah ada oleh-oleh baru nih kalau pergi ke Jepara, kain tenun :O btw, aku belum pernah pegang sama sekali gimana tekstur kain tenun sampai sekarang, paling penasaran sama itu sih XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sini...sini... ikut budhe!!! HAhaha

      Delete
  3. Bagus Mba tenun ikatnya, kita harus jaga dan bangga memiliki kearifan lokal yang melimpah dan cantik seperti ini. Asik ya, bisa jadi wisata edukatif ini karena sambil lihat proses, gak cuma pakai.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mau berkomentar...